Search
  • TGSI

THE ULTIMATE QUESTION: AM I GOOD ENOUGH?

By The Golden Space Indonesia

In English Click Here

Jika ada satu pertanyaan yang mendefinisikan pencapaian kita selama hidup, pada akhirnya kita ingin tahu: apakah yang kita lakukan sudah cukup? Sejak kecil, kita dibesarkan dan dididik dalam sebuah kultur dan norma yang menjunjung tinggi sikap menghormati dan menghargai orang lain. Namun sepertinya jarang sekali terdengar, setidaknya selama saya sekolah, ujaran untuk menghormati dan menghargai diri sendiri. Hampir seluruh sikap dan tingkah laku kita diarahkan untuk memperlakukan orang lain dengan baik, dan tidak ada salahnya dengan itu. Tapi bagaimana caranya kita diharapkan untuk menghargai dan menghormati orang lain tanpa mengetahui cara memperlakukan diri sendiri dengan baik? Analogi paling logis adalah kita tidak bisa mengajarkan anak membaca kalau kita sendiri buta huruf. Maka, bagaimana kita bisa memberikan cinta dan kebahagian kepada orang lain, jika kita tidak tahu caranya memberikan cinta dan kebahagiaan kepada diri sendiri?


Tanpa memiliki rasa cinta terhadap diri sendiri, ketika kita berusaha untuk menghormati, menghargai, mencintai, dan membahagiakan orang lain, tanpa disadari, kita akan mengharap mereka memberikan hal yang sama kepada kita, begitu pun sebaliknya. Jika keduanya dapat saling memenuhi ekspektasi satu sama lain, bravo! Tapi apakah kenyataannya selalu seperti itu? Lalu apa yang terjadi saat kita memberikan yang terbaik kepada orang lain namun mereka tidak membalas kebaikan tersebut sesuai harapan kita? Kecewa? Marah? Sedih? Atau bertanya-tanya: apakah yang saya berikan belum cukup? Apakah saya tidak cukup? Silakan renungkan perasaan yang muncul saat hal itu terjadi.

Berlawanan dengan keyakinan banyak orang, budaya menomorsatukan orang lain dan menempatkan kebahagiaanmu belakangan sesungguhnya adalah sebuah hal yang egois. Mengapa? Karena saat kita mengorbankan kebahagiaan dan kepentingan kita demi membahagiakan orang lain, justru kita akan berekspektasi bahwa orang tersebut akan melakukan hal yang sama untuk kita, atau setidaknya berterima kasih dan menghargai pengorbanan kita. Saat mereka membalas kebaikan kita, tentu kita akan merasa senang dan tervalidasi. Hal ini dapat mengakar menjadi sebuah keyakinan bahwa nilai dan harga diri kita ditentukan oleh bagaimana cara orang lain memperlakukan kita dan memvalidasi siapa diri kita dan apa yang sudah kita lakukan, entah dengan pujian, anggukan, persetujuan, penerimaan, cinta atau kebaikan mereka.


Banyak dari kita terjebak dalam keyakinan ini, yang mana menjadi sumber penderitaan kita sendiri, karena kita akan selalu bertanya-tanya sudah apakah diri ini sudah cukup? Apakah saya layak untuk dicintai? Apakah saya pantas untuk diterima apa adanya? Selama kita masih mengharapkan penerimaan dan persetujuan orang lain, pertanyaan ini akan selalu hadir, dan sepanjang hidup, kita akan berusaha untuk mendapatkan validasi dan persetujuan orang lain melalui apa yang kita lakukan demi membahagiakan atau menyenangkan orang lain.


Oleh karena itu, mulailah memberikan cinta dan kebahagiaan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Sikap ini bukanlah hal yang egois, karena pada akhirnya setelah kita terisi penuh dengan cinta dan kebahagiaan yang datang dari dalam diri, maka kita akan bisa memberikan cinta dan kebahagiaan ini kepada orang lain tanpa ekspektasi apa-apa. Inilah yang disebut cinta tanpa syarat. Dengan memberikan cinta kepada diri sendiri, maka kita akan selalu merasa cukup, karena cinta itu sudah hadir dan terpenuhi di dalam diri.

Selain itu, kesadaran bahwa kehidupan dan eksistensi kita di dunia ini sudah cukup sebagai validasi bahwa diri kita berharga, bahwa diri kita pantas dan layak untuk dicintai karena Tuhan dan Semesta sudah memberikan kita kehidupan ini. Napas kita hingga detik ini adalah bukti cinta tanpa syarat dari Sang Pencipta. Cara kita menghargai dan menghormati cinta-Nya adalah dengan menghargai dan menghormati diri sendiri dan menggunakan kesempatan hidup yang kita dapatkan untuk memberikan cinta dan kebahagiaan itu kepada diri sendiri sebelum melakukannya kepada orang lain dengan tanpa syarat.

Jadi, ketika kita bertanya kembali apakah diri kita sudah cukup baik, jawabannya tentu saja “Ya, sudah cukup”. Temukan cara untuk mencapai tahap ini dan praktekan langsung proses transformasinya di acara Express & Manifest bersama The Golden Space Indonesia, pada hari Sabtu, 30 Januari 2021 jam 10:00-18:00 WIB! Untuk info lebih lanjut silakan cek Instagram @thegoldenspaceindonesia.

If there is one question that defines our success in life, at the end of the day, we would wonder: have I done enough? Growing up, many of us were raised and educated in a culture and norm that emphasize the importance of honoring and respecting others. Rarely I heard, at least throughout my school years, the saying of honoring and respecting yourself. Almost all attitudes and behaviors are designed to treat other people well, not that there’s anything wrong with that, but how could you respect and honor others if you don’t know how to do the exact same thing to yourself? The most logic analogy for this is you can’t teach your kids to read if you are illiterate. Therefore, how don’t know how to give love and happiness to yourself, how can you give love and happiness to others?


The absence of self-love would result in your unconscious expectations that other people will give you the honor, respect, love and happiness the way you do for them. If it’s mutual, then bravo! But in reality, has it always been mutual? What would happen if they don’t return the love to you? Would you be disappointed? Angry? Sad? Or wondering: have I done enough? am I good enough? Please reflect on how you would usually react.


Contrary to common belief, the culture of putting others first before you is actually a selfish act. Why? Because when we sacrifice our happiness for the sake of making someone else happy, you would also expect them to sacrifice for you. When they return the favor, of course it would feel good and validating. This might root into a belief that your value and self-worth are based on how people treat and validate you or what you’ve done, either with a praise, a nod, an approval, acceptance, or love.


Many are trapped in this belief system from which suffering stems out. You would always wonder if you are good enough, if you are deserving or love, if your are worthy of acceptance for who you are. For as long as you’re still expecting other people’s love and approval, you would always question yourself and all your life you’d be trying to always get validation and approval through everything you do to make others happy.


Therefore, start giving love and happiness to yourself first. This is not selfish as once you are filled with love that comes from within, then you would give love to others unconditionally, without expectations. By giving yourself love, you will always feel enough because the love is already there, that you are fulfilled with love already.

In addition to that, the awareness of the fact that we are alive and we exist in this world, is a validation on its own that we are indeed worthy, loved and blessed in the eyes of God and the Universe. Our breath is a proof of unconditional love from the Creator. The way you honor and respect the Divine’s love is to honor and respect yourself first before doing that to others unconditionally.


Ultimately, when you ask yourself: am I good enough? The answer is “yes, you are!”. Learn how to reach this state of being and practice the transformation process directly in Express & Manifest with The Golden Space Indonesia, on Saturday, 30 January 2021 at 10:00-18:00! For further info, please check Instagram @thegoldenspaceindonesia.

0 comments

STAY CONNECTED

Join our mailing list for the latest class and event updates.

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Twitter

©2020 The Golden Space Indonesia