Search
  • TGSI

Jatuh Cinta Lagi

By Ayu Tresna Ekadewi

Women Empowerment & Parenting Specialist 

Cinta yang terpenting adalah cinta pada diri sendiri


Tidak pernah terbayang kan sebelumnya bahwa saya dapat merasakan cinta yang dalam pada diri sendiri lagi. Suatu perasaan dimana saya menerima diri saya apa adanya, dengan segala kekurangannya dan bangga akan semua kelebihan yang Tuhan berikan pada saya. Perasaan cinta yang selalu membuat saya ingin tersenyum, santai dan nyaman. Tidak ada kondisi eksternal yang dapat merusak kenyamanan dalam hati ini. Saya masih memiliki banyak masalah yang harus saya selesaikan, tetapi cara saya memandang permasalah tidak dari sisi ‘victim mode’. Saya merasa bahwa semua permasalah yang saya hadapi pasti ada hikmah nya, saya hanya perlu mencari apa ‘lesson’ yang saya perlu pelajari. Saya juga masih mendapat ‘triger’ dari orang sekitar, namun itu saya anggap sebagai tanda, bahwa saya harus memperbaiki diri atau menyelesaikan suatu permasalahan yang masih menjadi ganjalan.


Nama saya Ayu Tresna Ekadewi, 10 tahun yang lalu saya menemukan bukti bukti bahwa suami saya ketika itu berselingkuh, saya benar benar tidak mempercayainya. Kita sama sama dari nol membangun rumah tangga dan sekarang di karuniai 2 anak yang lucu lucu. Hampir tidak mungkin dia tega melakukan hal itu. Pada saat itu, yang pertama saya lakukan adalah merefleksikan diri sendiri kenapa hal itu sampai terjadi. Memutar akal dan saya bertekad bahwa saya harus menyelamatkan perkawinan ini. Karena saya juga tidak tahu bagaimana caranya, akhirnya saya berniat mengajak suami pergi ke konsultan perkawinan. Dikarenakan dia tidak mengetahui kalau saya sudah mengetahui perselingkuhannya, jadi saya membuat alasan kalau saya mengalami depresi dan dia saya minta menemani saya ke psikolog di suatu sanatorium di Jakarta selatan. “Pasti ada something wrong deh sama aku, sekarang kondisi financial kita membaik, punya anak lucu lucu, tapi aku kok gak bahagia” begitu alasan yang saya buat.


Semenjak kami konseling, dengan seiring nya waktu, semakin banyak tanda tanda yang menunjukan kalau sebaiknya kita lebih baik berpisah. Saya merasa bahwa yang hilang dalam perkawinan kita adalah ‘connection’. Kita memang hidup satu rumah tapi kita hidup masing masing, dia dengan bisnisnya dan saya dengan pekerjaan dan anak anak.


Tanpa saya sadari, akibat dari perceraian ini adalah luka yang teramat dalam di hati saya, dan karena luka itu sangat sakit, saya berusaha membuatnya kebal, sehingga saya tidak merasakan perasaan apapun dan dapat beraktifitas seperti biasa. Pada saat itu keputusan bercerai bukanlah keputusan yang umum. Saya ingat bahwa di dalam hati sesungguhnya saya hanya ingin menjadi diri sendiri. I miss to feel myself again.


Setelah mendalami spiritual di The Golden Space Indonesia, saya mulai menyadari bahwa saya benar benar tidak tahu cara mencintai diri sendiri, saya bahkan tidak dapat merasakan rasa sedih, marah, kecewa apalagi merasakan cinta. Bagaimana bisa mengetahui kalau kenal siapa saya saja tidak. Saya terbiasa melakukan apa yang sekeliling kita harapkan. Bersekolah di universitas yang bagus, memiliki pekerjaan yang bisa di banggakan, menikah sebelum umur 30, membeli rumah dan mempunyai anak. Hidup kita bukan sekedar checklist, apalagi bila checklistnya bukan kita yang bikin tapi karena pengaruh keluarga dan lingkungan. Bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain untuk mencintai kita dengan tulus, kalau kita sendiri saja tidak tahu cara mencintai diri kita sendiri, lebih parah apabila kita sendiri tidak dapat merasakan rasa cinta itu sendiri, kehangatan dan kebahagiaan yang merambat di dalam hati dan mengobati semua luka dan dan sakit yang kita rasakan, dan membuat semuanya baik baik saja, itulah cinta versi saya.


Setelah bercerai, saya mulai membuka diri untuk mencari pasangan. Saat ini saya mengerti kalau pada saat itu saya masih penuh amarah, kekecewaan dan sakit hati yang teramat dalam, akibatnya saya pun menemukan pasangan yang memiliki energi yang sama dan tentunya hubungan kami tidak berlangsung lama.


Pada hubungan yang kedua, saya merasa kalau saya benar benar jatuh cinta dan melakukan semua yg saya bisa untuk menyenangkan pasangan, walaupun terkadang mengorbankan hati kecil saya. Hal ini mengakibatkan kekecewaan dan kesedihan yang tidak bisa saya ungkapkan, karena seperti kata kata di quote Instagram: What you tolerate other, is how you teach them to treat you.


Setelah saya bergabung dengan The Golden Space Indonesia. Pada saat mengikuti Awaken the Divine you 7 days, saya menyadari bahwa banyak sekali dalam hidup saya yang patut di syukuri dan langsung menjadi vegetarian, karena dampak yg saya rasakan adalah saya merasa koneksi yang sangat dalam dengan suara hati dan tidak lagi merasa diri sebagai ‘victim’. Kedua anak saya merasa bahwa saya menjadi lebih sabar dan tidak cepat marah.


Setelah mengikuti beberapa retreat dengan master Umesh H nandwani, pendiri The golden Space Global, saya menemukan alasan kuat mengapa saya lahir ke dunia ini. Misi hidup saya adalah mengobati hati yang sakit dan mengajarkannya untuk mengisi hati dengan cinta, karena dengan mencintai diri kita, kita bisa menjadi berkah buat orang sekitar kita. Segala sesuatu yang saya alami sakit hati, kekecewaan adalah bekal saya untuk membantu orang banyak, dan perjalanan saya untuk mersakan cinta lagi telah membuat emphaty yang besar dalam diri saya untuk mengajarkan setiap orang untuk bangkit dan mulai mencintai diri sendiri.


Dengan segala kerendahan hati, saya mempertanyakan lagi ke pada Tuhan kenapa saya harus mengajar (be a teacher) dan mengobati hati yang sakit (be a healer), siapa lah saya mendapat tugas sebesar dan seagung ini. May 2019, di depan rumah sakit Ibu Teresa di Bangalore, India dalam meditasi saya ibu Teresa datang dan beliau berkata “ tidak apa apa kamu mau membantu orang, karena untuk membantu orang tidak selalu harus secara besar besaran, just do a small things with a great love” setelah meditasi, salah satu teman kami menyebutkan, bahwa itu memang quote dari ibu Teresa. Sejak saat itu, saya lebih bersemangat menjalani hidup, dan berusaha selalu lebih mendekatkan diri pada misi hidup saya di dunia ini. When I heal my self, I heal the world, sesuai dengan pesan yang saya dapatkan pada Nepal retreat 2018 lalu, sebuah konfirmasi yang indah.

Saya menaruh harapan untuk semua jiwa yang belum dapat merasakan indahnya cinta, untuk bangun dan mulai belajar mencintai diri kita, self love bukan selfish, karena self love di dasarkan pada keinginan untuk berbuat lebih banyak lagi untuk diri sendiri, orang orang sekita kita dan orang banyak. Kita semua berhak dan harus hidup dengan penuh cinta, menjalankan aktivitas sehari hari dengan cinta dan hidup untuk cinta, mulai dari hari ini mulai dari detik ini, dan nikmati hari hari yang penuh cinta yang ada dalam diri sendiri dan memancar keluar dan berbagi dengan orang orang terkasih. Tidak memakan waktu lama, begitu kita merasakan cinta pada diri sendiri secara tulus, kita akan bervibrasi pada frekwensi cinta dan akan menarik energy cinta pula, dalam semua aspek kehidupan, relationship, career dan family.


I love my life, I love God and its creation… because I finally can say… that I love my self unconditionally.

Jatuh Cinta Lagi

STAY CONNECTED

Join our mailing list for the latest class and event updates.

CONTACT US
+62 215 794 3729
+62 812 9338 3162 (WA)
tgsi@thegoldenspaceindonesia.com
or you can fill out this form

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Twitter

©2020 The Golden Space Indonesia